LAMPIRAN PDF Print E-mail
Written by GI. Pieter Yoksan   
Tuesday, 20 April 2010 18:27

LAMPIRAN

Pembagian Salah Injil-injil Sinopsis: Sebuah Kritik terhadap Metodology Historikal-Kritikal

Kritik Historikal (Historical Criticism) adalah sebuah pendekatan atheis terhadap penenyelidikan Alkitab. Metode ini mulai dengan menyangkal bahwa Tuhan adalah Pengarang Alkitab, dan menolak segala hal yang bersifat super-alami, mujizat, dan nubuat masa depan yang tercantum di dalam Alkitab. Dalam penyelidikan Injil, pendekatan kritik historikal terdiri dari metode kritik-sumber, kritik-bentuk, dan kritik redaksi.

Penulis mengemukakan perasaan Eta Linnemann, mantan pengikut Bultman yang berubah menjadi seorang Injili: “Penolakanku terhadap aliran teologia kritik-historikal bermula saat saya berkata “ya” kepada Tuhan dan Juruselamatku Yesus Kristus yang ajaib dan kepada penebusan mulia yang telah Ia lakukan bagiku di bukit Golgota.”1 Linneman melanjutkan penjelasannya bahwa tidak ada kebenaran yang dapat ditemukan bila kita menggunakan metode kritik-historikal untuk menyelidiki Alkitab, dan pekerjaan dengan metode ini tidak melayani pengabaran Injil.2 Marilah kita menyelidiki beberapa cabang penyelidikan Injil dengan kritik-historikal untuk melihat mengapa metode ini patut ditolak.

Kritik Sumber (Source Criticism)

Kritik sumber, selaras dengan namanya, adalah sebuah studi terhadap sumber yang tersedia bagi penulis Alkitab ketika mereka menulis Injil. Pertanyaan yang diajukan oleh metode ini adalah: Dari mana para penulis Injil memperoleh bahan-bahan mereka? Metode ini mencoba menyelesaikan masalah sinopsis. Masalah sinopsis, seperti namanya, mencakup 1) pertanyaan tentang kesamaan dan perbedaan dalam kata, isi dan urutan Injil-injil sinopsis, dan 2) mereka mencoba menghitung jumlah kesamaan dan perbedaan dengan berasumsi bahwa para penulis Injil sinopsis saling bergantung secara literal satu sama lainnya. Sarjana Perjanjian Baru mencoba untuk menyelesaikan masalah sinopsis dengan mengusulkan dua teori utama: terori dua-dokumen, dan teori empat-dokumen.

Teori dua-dokumen adalah teori yang paling populer dan merupakan solusi yang diterima secara luas untuk menyelesaikan masalah sinopsis. Teori ini menganggap Injil yang paling awal ditulis adalah Markus. Alasannya bahwa Markus memiliki isi paling tidak unik di antar ketiga Injil sinopsis, Matius dan Lukas seyogianya mencantumkan apa yang telah tercantum dalam Markus. Dengan kata lain, dalam menulis Injil mereka, Matius dan Lukas menyalin bagian dari Injil Markus. Markus menjadi Injil utama.

Akan tetapi, masalah teori dua-dokumen terlihat bila seseorang meneliti Matius dan Lukas dan mengeluarkan bahan-bahan seperti yang terdapat dalam Markus, masih tersisa sejumlah besar materi yang tidak sama di Matius dan Lukas. Bahan-bahan ini berupa ucapan-ucapan Yesus. Dari mana Matius dan Lukas mendapatkan ucapan-ucapan ini? Dari sumber mana bahan ini diperoleh? Para sarjana mengusulkan terdapat satu sumber lainnya yang disebut “Q” atau Quelle (Jerman untuk “sumber”). Mereka telah berangan-angan bahwa Papias mengemukakan dalam kata Ibrani logia yang terdapat dalam Matius adalah berasal dari sumber Q. Hal ini adalah kesimpulan yang tidak berdasar. BB Warfield berargumentasi bahwa logia bukanlah sumber terpisah tetapi merupakan bahan Injil yang berasal dari Matius sendiri.3 Kesimpulannya adalah bahwa Matius menulis Injil Matius secara mandiri. Dia sendiri merupakan sumber penulisan karena dia adalah murid pribadi dari Tuhan, dan saksi-mata dari kehidupanNya.

Teori empat-dokumen mencoba memperbaiki kekurangan teori dua-dokumen. Pandangan ini beranggapan bahwa di belakang Matius dan Lukas terdapat empat sumber: 1) Sumber-Matthean (M) mengandung materi unik untuk Matius, 2) Sumber-Lukan (L) yang mengandung materi unik untuk Lukas, 3) Injil Markus, dan 4) Q, sumber yang memuat perkataan-perkataan Yesus. Namun teori ini tidak memuaskan, dan kebingungan terdapat di dalamnya ketika Streeter mengusulkan bahwa ada sumber imaginatif lainnya yang disebut Proto Lukan. Karena itu mengapa Linnemann menuduh bahwa sarjana tersebut di atas meremehkan Kitab Suci “dengan usaha sistematik predisposisi kritis mereka menurunkan derajat Firman Tuhan menjadi sebuah karangan literatur teologia, dan mengabaikan kenyataan bahwa Firman Tuhan adalah wahyu tentang Sang Pencipta dan Sang Penebus kita.”4

Penolakan atas teori dua-dokumen dan empat-dokumen karena: 1) Para tokoh gereja abad mula-mula tidak pernah mengakui Markus sebagai Injil yang paling awal ditulis. Kenyataannya, beberapa orang di antara tokoh gereja abad mula-mula bersaksi bahwa Matius merupakan Injil pertama yang ditulis bukan Markus. Origen [Anno Domini (AD: Tahun Tuhan) 185-254] berkata:

Saya menerima pandangan tradisional bahwa ke empat Injil merupakan bahan otentik Gereja Tuhan di atas muka bumi yang tidak dapat dibantah. Injil pertama ditulis oleh mantan pemungut pajak yang kemudian menjadi seorang rasul Yesus Kristus -Matius; ..... Kemudian disusul Markus yang mengikuti instruksi Petrus dalam penulisan Injil, ... Kemudian datanglah Lukas yang menulis Injil untuk para petobat asing karena penginjilan oleh Paulus. Dan yang paling akhir adalah Yohanes.5

Tokoh lain yang mengatakan hal yang sama adalah Irenaeus (sekitar/s AD 120-200), Papias (s AD160-230), Epiphanius (s AD 320-400), dan Cyril dari Yerusalem (s AD 320-390). Kritikus-sumber beranggapan bahwa Injil pertama adalah Markus tidak selaras dengan pandangan tokoh gereja abad permulaan. Kita harus lebih mempercayai kesaksian para tokoh gereja abad permulaan karena mereka hidup berdekatan dengan waktu Kristus dan Para Rasul daripada para kritikus zaman modern. Bahkan Alkitab mempertahankan urutan kronologis bahwa Matiuslah yang paling awal ditulis, disusul oleh Markus, Lukas dan Yohanes. Tidak ada sama sekali kesaksian bahwa Markus merupakan Injil yang pertama kali ditulis. David Kim, dalam disertasi tentang prioritas Mark, menyimpulkan:

“Permainan catur” Injil masih dimainkan dengan aturan-aturan, spekulasi-spekulasi dan tebakan-tebakan yang direkayasa manusia. Teori prioritas Markus adalah hasil dari permainan ini. Tidak ada satu bukti menyakinkan yang mendukung teori ini. Prioritas Markus adalah semata-mata sebuah “eisegesis.”6

John Wenham baru-baru ini juga menulis bahwa tidak ada dasar bagi teori Prioritas Markus. Dia berkata bahwa Injil Markus ditulis sekitar AD 45, Matius sekitar AD 40, dan Lukas sekitar antara AD 45-55.7

2) Teori Prioritas Markus bukan hanya harus dipertanyakan, keberadaan sumber “Q” juga sangat diragukan. Tidak ada naskah Q (manuscript), baik secara utuh maupun sebagian, yang pernah ditemukan. Hal yang sama berlaku bagi sumber “M” dan “L.”

3) Kritik-sumber melalaikan fakta bahwa penulis-penulis Injil merupakan saksi-mata dari hidup Kristus, dan penerima langsung pengajaranNya sehingga mereka dapat secara tepat mengingat dan menulis apa yang Yesus perbuat dan mengatakannya dengan inspirasi yang diberikan oleh Allah Roh Kudus (Yohanes 16:13).8

Kritik Bentuk (Form Criticism)

Ketika kritik-sumber tidak berhasil menyakinkan sarjana Injil injil sinopsis, mereka mulai mengalihkan perhatiannya ke teori yang disebut “kritik-bentuk.” Pertanyaan yang diajukan oleh para kritikus adalah: “Bagaimana para penulis Injil memperoleh Injil mereka masing masing?” Kritik-bentuk adalah sebuah usaha untuk menjelaskan struktur fragmen tanpa dasar (alleged fragmentary structure) dari Injil-injil dengan anggapan bahwa cerita individual yang termuat dalam Injil-injil telah lebih dahulu disirkulasikan secara lisan di lingkungan gereja-gereja. Perikop Injil-injil ini mengandung “cerita yang telah lebih dahulu disebar-luaskan”, “cerita-cerita mujizat”, “cerita-cerita tentang Yesus”, “kata-kata hikmat dan perumpamaan-perumpamaan”, “cerita-cerita menggugah semangat”, disirkulasikan ke masing-masing jemaat dalam bentuk terpisah dan dalam laporan independen. Teori ini menganggap bahwa masing-masing laporan telah mengalami perubahan dan perbaikan di gereja abad permulaan yang akhirnya menjadi sumber untuk liturgi, katekisasi, dan untuk kegunaan apologetika. Kritik-bentuk juga berasumsi bahwa orang cenderung untuk 1) mengumpulkan cerita-cerita, 2) menambahi cerita-cerita dengan rincian, 3) mengkonfirmasikan cerita cerita ini ke dalam bahasa mereka, dan 4) melestarikan cerita-cerita yang akhirnya cocok dengan agenda mereka. Mereka berkesimpulan bahwa laporan-laporan Injil yang pendek, yang lebih sederhana, yang lebih Semitik, dan yang terasing dari tata kehidupan gereja abad permulaan adalah Injil yang paling mungkin benar dan bersejarah. Dengan demikian tugas kritik-bentuk adalah menapak tilas jejak pembentukan Injil dari waktu diproklamasikan secara lisan sampai waktu Injil itu ditulis secara permanen. Rudolf Bultmann menamakan proses ini sebagai pemastian manakah yang betul-betul Injil dengan demitologisasi.

Pendekatan kritik-bentuk mengandung empat macam prinsip yang meragukan: kritik-bentuk berkata bahwa Injil-injil sinopsis 1) adalah berdasarkan literatur cerita-cerita rakyat kuno, 2) dikarang berdasarkan pandangan pribadi dan pengakuan subyektif dari murid-murid Kristen abad permulaan, 3) mengandung bentuk-bentuk tradisi tertentu yang telah diimbuhkan secara artifisial pada abad ke dua; dan 4) sesungguhnya merupakan produk masyarakat yang mencermukin sitz im leben (situasi kehidupan) dari gereja permulaan. Dengan kata lain, sejarah gereja abad permulaan merupakan konteks riil yang menghasilkan cerita Injil. Peristiwa yang tercatat oleh Matius, Markus dan Lukas tidak bersumber dari zaman Kristus, tetapi berasal dari kehidupan gereja. Peristiwa-peristiwa itu memang kudus tetapi belum tentu pernah terjadi. Menurut para kritikus-bentuk, Injil-injil seharusnya dianggap sebagai dogeng-dongeng yang memuat prinsip-prinsip etika. Menurut mereka, Yesus adalah seorang manusia yang baik dan seorang guru agung namun Ia bukanlah Allah.

Siswa Alkitab konservatif akan berhasil dengan menolak pendekatan tersebut di atas dan mempelajari Injil-injil dengan dasar-dasar berikut ini: 1) Injil-injil asli tidaklah mengandung kebenaran yang tidak lengkap sehingga gereja harus mengarang cerita-cerita untuk diimbuhkan ke dalamnya; 2) kandungan Injil berbeda sama sekali dengan dongeng zaman purba, 3) kritik-bentuk mengabaikan sama sekali saksi hidup yang pasti tidak akan menulis kesaksian kalau hal itu tidak pernah terjadi, 4) bentuk-bentuk Injil dan outline tema mengindikasikan bahwa materi materi Injil bukanlah dipilih dan disusun secara acak; 5) Lukas 1:2, dan I Yohanes 1:1 mengatakan kepada kita bahwa pertama-tama orang Kristen bukanlah pengarang Injil-injil, tetapi merupakan saksi mata atas kehidupan Kristus termasuk mujizat-mujizat yang dilakukanNya; 6) tidak ada waktu bagi unsur dongeng atau legenda untuk menyelundup masuk ke dalam Injil-injil; dan 7) orang-orang Kristen abad permulaan dengan hati-hati membedakan antara apa yang Yesus katakan dengan apa yang mereka pikirkan (contohnya I Kor 7:12); mereka tidak menaruh kata-kata mereka ke dalam mulut Yesus.

Kritik-redaksi (Redaction Criticism)

Kritik-redaksi dibangun berdasarkan kritik-bentuk. Pertanyaan yang diajukan oleh kritikus-redaksi adalah: Mengapa penulis Injil menggoreskan pena seperti itu saat mereka menulis Injil? Pendekatan kritis pada dasarnya tertarik dengan pekerjaan editorial yang tanpa dasar yang telah menyusup ke dalam penyusunan Injil. Teori ini mencoba untuk mempelajari masing-masing Injil untuk melihat bagaimana pemilihan isi menentukan tersusunnya Injil sinopsis. Kritikus-redaksi ini telah menganggap asumsi mereka sebagai fakta bahwa bukan hanya Matius, Markus dan Lukas yang menulis Injil mereka, namun sekelompok editor teologia terkemudian yang menuliskannya, dan mereka menaruh nama nama Penginjil ke dalam pekerjaan mereka. Para editor tanpa nama inilah pengarang Injil sinopsis, dan inilah tugas penafsir modern untuk menemukan mengapa Injil-injil ini terseleksi, tersusun, dan tertulis seperti Injil yang berada di tangan kita pada saat ini.

Kritik-redaksi bukan hanya sebagai sebuah metode penyangkalan terhadap Kristus melalui penafsiran Injil dengan menolak unsur ilahi dalam Injil-injil, dan metode ini adalah metode yang sangat subyektif. Bagaimana mungkin seorang penafsir dapat menduga pikiran penulis Injil untuk memastikan mengapa mereka menulis dengan cara tertentu bukan dengan cara lain dan memilih naskah tertentu dan bukan naskah lain? Masalah ini menjadi semakin rumit ketika penafsir abad ke 20 yang mencoba untuk menggali tanpa satupun dasar obyektif apa yang terkandung dalam pikiran seorang penulis abad pertama. Apakah metode ini adalah metode penafsiran Alkitab yang sah? Adakah dasar obyektif metode ini dapat diterapkan? Robert L Thomas memberi jawaban negatif. Dia berkata bahwa ketika preposisi kritis telah sedemikian berpengaruh terhadap studi Injil-injil sinopsis, “penilaian subyektif menjadi aturan dan naskah sejarah dibaca dengan penuh ketidak-percayaan.”9 Thomas dengan benar menyimpulkan:

Metode penafsiran tradisional tatabahasa-historis (traditional grammatical-historical) mempunyai langkah-langkah yang sejalan dengan prinsip Injili. Prinsip tata-bahasa dan fakta sejarah menentukan arti teks, bukan dengan anggapan kritis yang masih perlu dipertanyakan kebenarannya. Gereja telah mengikuti metode tradisional tatabahasa-historis sepanjang zaman, khususnya sejak zaman Luther, Calvin dan zaman Reformasi. Metode ini telah melayani kita dengan baik, dan dengan menggunakan pandangan Injili, kita diberitahu tentang apa yang selayaknya dilakukan untuk menemukan arti Injil-injil dan menampakkan fakta sejarah tentang kehidupan Yesus.10

Metode penafsiran Injil secara kritis-historis harus ditolak. Mengapa? Menurut Harold Lindsell, karena: Pandangan metode ini, .... bergerak menjauh dengan menyangkal bahwa Alkitab tidak mengandung kesalahan. Mereka meragukan inti Alkitab dan menyangkal bahwa Alkitab bersifat super alamiah. Saat kita ragu terhadap mujizat, secara otomatis kita membuka diri terhadap penyangkalan kelahiran dari anak perawan dan kebangkitan tubuh Yesus Kristus dari kematian.11

Hal inilah yang dihasilkan oleh Seminar Yesus - satu kelompok yang terdiri dari 74 sarjana modernistik - yang melalui rapat memutuskan mana yang merupakan kata-kata Yesus, dan mana yang merupakan kata kata dari gereja. Mereka menyatakan bahwa Yesus tidak mengucapkan 82% perkataan yang Dia telah ucapkan. Pengikut-pengikut Yesus menambahkan perkataan ke dalam “mulut” Yesus. Karena itu janganlah heran bahwa John D. Crossan yang merupakan anggota Yesus Seminar mengatakan bahwa Ketuhanan (deification) Kristus adalah hasil “campuran dongeng, propaganda, dan konvensi sosial.”12 Crossan menyimpulkan bahwa kebangkitan dan kenaikan Kristrus adalah hasil angan-angan, dan ia bersikeras bahwa tubuh Yesus dimakan oleh anjinganjing.13 Kepada mereka yang menodai Firman Tertulis dan menghujat Firman Hidup, peringatan tercantum dalam Wahyu 22:18-19 berlaku:

Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan perkataan nubuat dari kitab ini: “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.

Jika ada satu alasan mengapa Injil-injil ditulis, inilah alasannya: “Tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yohanes 20:31). Karena itu, setiap usaha dalam bidang kesarjanaan Alkitab yang melencengkan pesan Injil adalah suatu pekerjaan setan. Dalam seluruh usaha kita untuk menafsirkan dan menjabarkan Injil, kita harus menggunakan prinsip yang dikatakan oleh Yohanes Pembaptis: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil (Yohanes 3:30). Dan jika kesimpulan teologia yang dihasilkan manusia bertentangan dengan Firman Tuhan, kemudian kita harus memberlakukan nasihat rasul Paulus: “Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong” (Roma 3:4).

1 Eta Linnemann, Historical Criticism of the Bible: Methodology or Ideol ogy?, trans Robert W Yarbrough (Grand Rapids: Baker Book House, 1990), 17.

2 Ibid. Guthrie telah menilai dengan jujur, walau tidak sekuat Linnemann, bahwa pendekatan kritik-historis Injil adalah “cabang pengertian dan penghargaan terhadap keberadaan Injil, ... tidak ada untungnya mengangkat mereka (contohnya: masalah-masalah terkait dengan kritik sinopsis) ke posisi yang dominan.” (Donald Guthrie, New Testament Introduction, rev ed [Downers Grove: InterVarsity Press, 1990, 26.)

3 Benjamin Breckenbridge Warfield, The Inspiration and Authority of the Bible, ed Samuel G Craig (Philadelphia: Presbyterian and Reformed Publishing Com pany, 1948), 378.

4 Eta Linnemann, Is There A Synoptic Problem?: Rethinking the Literary Dependence of the First Three Gospels, trans Robert W Yarbrough (Grand Rapids: Baker Book House, 1992), 15.

5 Eusebius, The History of the Church form Christ to Constantine, trans GA Williamson (New York: Dorset Press, 1965), 265.

6 David Kim, “A Critical Investigation of the Priority of Mark,” ThD diss, Grace Theological Seminary, Winona Lake, Indiana, May 1977, 373.

7 John Wenham, Redating Matthew, Mark, and Luke (Downers Grove: InterVarsity Press, 1992), 243.

8 Sangatlah disesalkan bahwa AT Robertson menganut paham kritik historis. Menurut Robertson, pendekatan kritis telah berhasil bertahan lama, dan teori ini bukanlah spekulasi subyektif. (A Harmony of the Gospels for Student of the Life of Christ [Nashville: Broadman Press, 1950], 225). Eta Linnemann telah menunjukkan kesalahan metode ini. Dia menolak ketergantungan literatur, dan mengusulkan kebebasan historis yang dimiliki oleh semua penulis sinopsis. (“Is Literary Depen dence Among the Three Synoptic Gospels Probable?,” sebuah makalah yang dipaparkan di Westminster Theological Seminary, Philadelphia, Pennsylvania, 12 Maret, 1992.)

9 “Redaction Criticism: Is it Worth the Risk?” Christianity Today, October 18, 1985, 8-I.

10 Ibid.

11 Harold Lindsell, The Battle for the Bible (Grand Rapids: Zondervan Pub lishing House, 1976), 204.

12 Richard N Ostling, “Jesus Christ, Plain and Simple” TIME, January 10, 1994, 34-5.

13 James R Edwards, “Who Do Scholars Say That I Am?,” Christianity To day, March 4, 1996, 17.

 
Share