Hari-hari Bersama Kakek PDF Print E-mail
Written by Dr SH Tow   
Thursday, 14 June 2012 05:43

 

Hari-hari Bersama Kakek

oleh Dr Tow Siang Hwa (Dr SH Tow)


Pada tahun 1932 saya dikirim ke Singapura (kira-kira 32 mil selatan Senai, Johor Baru) untuk tinggal bersama kakek, sehingga dapat bersekolah di Anglo-Chinese-School. Ayah dan ibu ingin para putra mereka menempuh pendidikan di sekolah-sekolah lebih baik di Singapura, khususnya di sekolah Misi  Methodist untuk pelajar laki-laki saja – ACS. Kakek adalah gembala sidang Gereja Presbyterian berbahasa Teochew di Jalan Upper Seranggon, (ini adalah suatu tindakan yang bijak dan berdampak untuk masa depan).


Kakek adalah seorang Presbyterian yang ketat, dan ia adalah seorang saleh terukur dengan standar terbaik. Ia berumur 70 dan telah menduda 10 tahun. Kakek seorang Kristen saleh dalam iman dan adalah orang yang lurus seperti “anak panah” di dalam tindakan dan sikap hidup.


Saat pertama saya berjumpa dengan dia, dia menyambut kami dengan salam hangat. Dia memanggil aku ke sampingnya dan mengajarkanku bagaimana menjadi seorang presbyterian yang baik. Dia berkata kepadaku, “Cucu, selalu berdoa supaya beriman. Mintalah kepada Allah untuk memberikanmu iman yang kokoh. Itulah hal terpenting untuk didoakan. Kemudian ia berdoa supaya saya memiliki iman yang kokoh. Engkau harus berpikir ia seorang aneh tetapi itu adalah pelajaran yang tidak mudah dilupakan.


Kakek memang seorang saleh yang jarang dicari duanya, penuh dengan iman dan doa. Dia tidak akan berbuat sesuatu tanpa doa.


Tiap malam, tanpa absen, ia selalu mengumpulkan kami para cucunya untuk Kebaktian Keluarga. Itu merupakan kebiasaan rohaninya. Dia telah mengajar kami menyanyikan pujian hymn dalam bahasa daerah kami yaitu Teochew, membaca sebagian kitab Suci dan berdoa untuk kami semua, satu persatu. Ini adalah kejadian tiap malam sebelum kami ke kamar tidur masing-masing.


Pembatas kamar tidak penuh sampai menyentuh langit-langit sehingga kamar tidaklah kedap suara.  Kami tetap dapat mendengarkan suara yang timbul dari kamar sebelah.


Sebagai hasilnya, kami terus dapat mendengar suara keras doa dari kakek di malam itu. Satu malam saya terbangun oleh suara keras doa dari kakek yang berdoa “Ya TUHAN, terimalah jiwaku.” Pada pagi berikutnya saya bertanya kepada kakek, “Kakek, apakah engkau sehat? Kenapa engkau berdoa dengan suara keras?” “ Tidak, cucuku, aku berdoa supaya Tuhan menerima jiwaku.” Aku heran sendiri – Kakek rindu kepada nenek. Karena itu ia tidak pernah menikah (setelah nenek meninggal). Aku juga memperhatikan ketika ia berbicara dengan kaum wanita di gereja matanya selalu memandang lantai, dan menghindari memandang wajah mereka. Ia menjelaskan alasannya kepadaku – “Cucuku, ketika engkau sudah dewasa engkau akan mengerti mengapa engkau tidak boleh memandang wanita. Engkau harus menjaga matamu kudus untuk dipakai oleh Allah. Inilah hal yang tidak dapat kulupakan.


Doa pagi sebelum berangkat ke sekolah merupakan suatu kegiatan rutin yang tidak terlupakan. Dengan kakek, Allah dan doa menjadi prioritas utama selalu.


Suatu morning, Abang ke dua dan saya berlari menuruni tangga curam untuk mengejar bis. Kami belum berdoa bersama dengan kakek. Waktu kami sedang berlari kami mendengarkan panggilan kakek, Cucu-cucuku, kita belum berdoa. Kembalilah!”


Secepatnya kami berputar kembali dan berdoa bersama dengan kakek!


Pada hari itu kami ditinggal oleh bis, dan terlambat sampai di sekolah. Tetapi, tidak pernah terulang kembali. Pelajaran yang dipetik adalah : tanpa doa tiada sekolah! Pelajaran hidup seperti itu bukan dari ruang kelas tetapi begitu dipelajari maka tidak terlupakan.


Ingatlah pelajaran TUHAN kita dalam Markus 8:36? Diterapkan pada kehidupan nyata, kita dapat berkata: “Apa yang dapat menguntungkan seorang manusia (atau seorang anak kecil) untuk memperoleh pengetahuan tetapi mengorbankan kehidupan rohaninya?” Begitu tepat perkataan ini kita lebih diyakinkan bahwa “berdoa untuk iman” lebih penting daripada ilmu dari ruang kelas. Ingat kembali perkataan Pemazmur “Takut akan TUHAN adalah permulaan hikmat” (Maz 111:10).


Ini adalah masalah prioritas dan nilai-nilai kekal: di mana ilmu pengetahuan dunia akan berlalu, pengetahuan akan Yang Mahatinggi dan takut akan TUHAN memperkuat keamanan kekal dalam Allah.


Pembaca terkasih, sebesar apa nilai yang engkau tempatkan untuk doa? Hari ini, setiap orang tua dan setiap anak sekolah yang harus lebih menjadi perhatian adalah bukan prestasi baik di sekolah. Begitu sering ilmu pengetahuan diperoleh dengan mengabaikan “berbicara dan berkomunikasi dengan Allah” -  sumber satu-satunya hikmat sejati, yang tidak terbeli oleh uang jumlah berapapun atau kepandaian dalam ruang kelas dan kerajinan dapat berikan.


Kakekku telah mewariskan kepadaku dan saudara-saudaraku sesuatu yang lebih penting daripada “seluruh dunia” dengan sederhana sangat rindu untuk berbicara kepada Allah, satu-satunya sumber dari nilai kekal kita.

 

Last Updated on Sunday, 17 June 2012 06:09
 
Share