PENAFSIRAN KITAB SUCI PDF Print E-mail
Written by DR. Timothy Tow   
Thursday, 03 January 2013 20:56

Karena oleh kasih karunia kita diselamatkan melalui iman.

WAHYU 6:1-11

AMSAL 4

 

PENAFSIRAN KITAB SUCI

 

Dengan membandingkan Kitab suci dengan Kitab suci, kita tidak dapat menafsirkan penunggang kuda putih (Wahyu 6) sebagai munculnya Anti Kristus ataupun sebagai gereja rasul-rasul. Kita melihat hal ini sebagai malaikat damai yang membawa ketenangan.  Petunjuk lain dari misi perdamaiannya adalah bahwa ketika penunggang kuda merah muncul di hadapanNya, "orang yang menungganginya dikaruniakan kuasa  untuk mengambil damai sejahtera dari atas bumi ..." (Wahyu 6:4). Jika kita menjadikan penunggang kuda putih sebagai Anti Kristus, maka tidak ada kesinambungan pola. Oleh kasih karunia Allah, maka ada masa-masa damai di bumi ini, Contohnya selama masa pemerintahan Ratu Victoria atas Kerajaan Inggris, dan kedamaian "perang dingin" dari akhir Perang Dunia kedua hingga sekarang, walaupun ada letusan kecil disana-sini.

 

Jadi penunggang kuda merah berarti perang dan pertumpahan darah, bahwa mereka harus membunuh satu dengan yang lain, dan bagi yang menunggang kuda merah tersebut dikaruniakan sebilah pedang yang besar. Pengunggang kuda hitam yang keluar dari timbulnya materai ketiga adalah malaikat kelaparan, yang mana secara logika datang setelah malaikat perang. Dan yang terakhir, kuda pucat, yang menandakan kematian. Kematian adalah hasil dari peperangan dan kelaparan.

 

Lompatan dari keempat penunggang kuda perdamaian, peperangan, wabah dan kematian seperti akan terlihat dalm sebuah komedi putar, turun dan naik berputat-putar. jadi, hingga Kedatangan Kristus yang kedua akan ada lingkaran yang sama di seluruh dunia. Jadi para penunggang kuda ini tidaklah di batasi secara sempit pada tuju tahun yang disebut sebagai Minggu Kesusahan Besar. Atau dengan perkataan dengan lebih jelas, lingkaran damai, perang, wabah dan kematian ini terjadi sejak dari Kenaikan Kristus sampai pada Kedatangan Kristus yang kedua.

 

Materai kelima mengungkapkan jiwa-jiwa para martir selama masa waaktu yang sama. Jubah putih yang diberikan kepada mereka menunjukan bahwa mereka diselamatkan dan dibersihkan hanya oleh kematian Kristus yang menggantikan mereka. Ajaran Roma Katolik yang meninggikan para martir seperti Bodhisattva Kristen, menjadikan mereka sebagai juruselamat kecil yang kenyataanya tidak demikian. Jika kitaa harus dippanggil untuk bersaksi bagi Kristus hingga mati sekalipun, "kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan" (Luk. 17:10).

 

RENUNGKAN:

Para martil tidaklah menghasilkan kebaikan untuk menyelamatkan diri mereka sendiri atau orang lain.

 

DOAKAN:

Tuhan, jagalah saya dari ajaran-ajaran Roma Katholik tentang martil.

Last Updated on Thursday, 03 January 2013 21:40
 
Share