MUJIZAT-MUJIZAT MASA KINI TETAPI BERWASPADALAH PDF Print E-mail
Written by Buswell, T Tow & J Khoo   
Wednesday, 17 August 2011 19:32

 

MUJIZAT-MUJIZAT MASA KINI TETAPI BERWASPADALAH


A Systematic Theology

In the

Reformed and Premillennial Tradition

of J Oliver Buswell

By

Timothy Tow and Jeffrey Khoo


http://febc.edu.sg/assets/pdfs/febc_press/Theology_for_Every_Christian.pdf

diterjemahkan oleh Peter Yoksan 


Merupakan sebuah kesalahan kalau kita berkata bahwa Allah tidak dapat, atau tidak akan melakukan mujizat di zaman kita. Allah melakukan mujizat saat ini, bukan lewat manusia, tetapi langsung dari sorga kalau Ia menghendakinya. Akan tetapi, ini merupakan suatu alasan masuk akal, tidak untuk melawan setiap fakta-fakta yang terbukti, bahwa Allah secara umum telah berhenti melakukan tanda-tanda mujizat atau hadiah-hadiah yang spektakular atau tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban ketika Perjanjian Baru telah selesai ditulis; dan hal ini merupakan kehendakNya bahwa “mujizat anugerah,” kesaksian dari Roh, jawaban doa, dan yang paling tinggi, Firman tertulis, haruslah merupakan sumber-sumber utama pengetahuan tentang DiriNya Sendiri untuk umatNya pada masa kini. Haruslah menjadi jelas kepada semua orang bahwa pelayan-pelayan yang paling saleh, yang penuh pengorbanan, yang paling berkompeten, para missionary, dan kaum-awam pada masa kini tidak mengalami “tanda” mujizat-mujizat yang bersifat demonstratif ini.


 

Sebuah pikiran yang sehat, penuh iman dalam kuasa dan hikmat Allah, tidak menyangkal kemampuan Allah untuk melakukan mujizat, selalu ingin belajar bahasa-bahasa asing dengan cara biasa (regular) melalui studi dan kerja keras. Pikiran sehat orang Kristen berharap supaya dapat mengikuti prinsip-prinsip biasa dari kesehatan badan dan sanitasi, menggunakan ketersediaan makanan, perteduhan, dan obat-obatan sebagai providensi ilahi yang telah tersedia. Dalam usaha menyebarkan Injil kita selalu berharap pelayanan Roh yang bersifat menegur dan menginsafkan dan bukti dari kehidupan yang telah ditransformasikan, tetapi kita tidak berharap, kecuali Allah berkehendak, sehingga kesembuhan yang tiba-tiba dari seorang yang terlahir dengan kaki dan tulang terpelintir, akan terkumpul begitu banyak orang untuk mendengarkan kita memberitakan Firman. Kita siap untuk melayani TUHAN, untuk mengalami jawaban ajaib atas doa-doa, dan menemukan bahwa Firman tidak akan kembali dengan sia-sia, tidak perduli akan “tanda-tanda dan mujizat-mujizat.”


 

Kekristenan memang merupakan iman yang bersifat “supranatural.” Tetapi sekali lagi, berhati-hatilah dengan mujizat-mujizat palsu dan pekerja-pekerja mujizat palsu (Ulangan 13:1-3; Matius 7:15-23; 24:24). Memang kita seharusnya berhati-hati!

 

Last Updated on Thursday, 18 August 2011 17:30
 
Share