BAHASA-BAHASA LIDAH PADA ZAMAN INI? PDF Print E-mail
Written by Buswell, T Tow & J Khoo   
Wednesday, 17 August 2011 19:34

 

BAHASA-BAHASA LIDAH PADA ZAMAN INI?


A Systematic Theology

In the

Reformed and Premillennial Tradition

of J Oliver Buswell

By

Timothy Tow and Jeffrey Khoo


http://febc.edu.sg/assets/pdfs/febc_press/Theology_for_Every_Christian.pdf


diterjemahkan oleh Peter Yoksan 

 


Aturan-aturan Paulus untuk pembatasan dalam pemakaian bahasa-bahasa asing (1 Korintus 14) dapat digunakan sebagai analogi untuk semua mujizat. Terbukti bahwa mujizat bahasa yang terjadi pada hari Pentakosta telah membingungkan pikiran jemaat saleh Korintus yang salah memandang hal itu sebagai hal yang menyenangkan saja (ekstaksi), suara tak bermakna, “Bahasa-bahasa asing adalah untuk sebuah tanda, bukan untuk mereka yang percaya, tetapi untuk mereka yang tidak percaya” (ayat 22). Dan dia memberi perintah supaya di dalam perkumpulan-perkumpulan orang percaya tidak lebih dari dua, atau, paling banyak tiga, secara bergiliran, dapat diizinkan untuk berbicara dalam bahasa asing, dan “Jika tidak ada penerjemah, hendaklah dia [barang-siapa yang ingin berbicara dalam bahasa asing/bahasa lidah] tidak berbicara di gereja” (ayat 27-28).

 


Jika pembatasan-pembatasan Paulus dijalankan secara harfiah di gereja modern, haruslah dipastikan bahwa terdapat penerjemah sebagai penerjemah yang asli, mengikuti peraturan tata-bahasa dan syntax dan kosa-kata, mujizat sesungguhnya dari bahasa-bahasa seperti yang terjadi di hari Pentakosta di ulang kembali. Lebih baik untuk disaksikan, sehingga “mujizat” palsu dapat ditiadakan.


 

Jika metode analogi digunakan untuk menguji laporan-laporan apa yang disebut mujizat, mujizat-mujizat asli tidak akan pernah terhalangi tetapi adalah lebih baik untuk disaksikan. Pada saat yang sama, khayalan-khayalan dan kebohongan-kebohongan (exaggerations) dapat dicegah.

 


Sejarah memastikan bahwa mujizat bahasa-asing telah berhenti. Tokoh gereja yang terkenal – Agustinus – telah menulis di abad ke 4, “Pada zaman mula-mula Roh Kudus turun atas mereka yang percaya: dan mereka telah berbicara dengan bahasa-bahasa asing, mereka ini bukanlah kaum terpelajar, ‘saat Roh Kudus memberikan mereka kata-kata.’ Tanda-tanda ini telah berlalu bersama dengan waktu. Karena memang penting untuk menjadi tanda dari Roh Kudus dalam semua bahasa, dan untuk menunjukkan bahwa Injil Allah telah dikabarkan dengan semua bahasa di seluruh permukaan bumi. Hal ini telah dilakukan sebagai tanda dan hal ini telah berlalu.”

 


Yang kita perlukan di zaman sekarang ini adalah bukan bahasa-lidah yang membingunkan tetapi air-mata dalam pertobatan (not tongues in confusion but tears of confession).

 

Last Updated on Thursday, 18 August 2011 17:28
 
Share