KEHENDAK ALLAH BERSIFAT PUNITIF/CHESTITIF PDF Print E-mail
Written by Buswell, T Tow & J Khoo   
Wednesday, 17 August 2011 21:50

KEHENDAK ALLAH BERSIFAT PUNITIF/CHESTITIF


Setiap pelayan Allah harus menaruh perhatian penuh kepada perintah TUANnya. Kalau kita menganggap rendah FirmanNya dan ragu-ragu kepadaNya adalah sebuah kematian untuk kita.


 

Bileam adalah seorang nabi bukan-Yahudi. Dia diminta oleh Balak, raja orang Moab, untuk mengutuki orang Israel yang merupakan ancaman kepada orang Moab saat mereka sedang berkumpul untuk memasuki Tanah Perjanjian. Ketika Bileam mengemukakan hal ini kepada TUHAN, dia diberitahu supaya jangan pergi bersama utusan raja dan jangan mengutuki orang-orang Israel sama sekali.

 


Ketika Balak mengirim pejabatnya yang berpangkat lebih tinggi kepada Bileam, menawarkan sang nabi lebih banyak hadiah, Bileam mengemukakan hal itu kembali kepada TUHAN, karena ia terdorong oleh nafsu-serakah atas keuntungan kotor. Dia seharusnya tidak melakukan hal itu. Allah, setelah berbicara satu kali, Bileam seharusnya telah mendengar, dengan kedua telinganya, dua kali (Mazmur 62:12). Allah, yang tidak-berubah, tidak-bermutasi (immutable) dalam karakterNya tidak dapat dipengaruhi seperti manusia labil (labil = cepat berubah, Bilangan 22:19) untuk melakukan hal sebaliknya daripada apa yang telah Ia katakan. Karena Bileam terdorong oleh keuntungan materi, dia telah menetapkan jantungnya untuk pergi bersama Balak. Untuk melayani haknya, TUHAN berkata kepadanya, “Pergilah!” Ini bukan sebuah promosi tetapi sebuah hukuman (punishment/punitive). Walaupun Allah berkata kepadanya, “Pergilah!” sebenarnya dapat dikatakan demikian: “Pergilah dan matilah!” Bileam memang akhirnya dihukum dengan kematian (Bilangan 31:8). Kita sebut hal ini sebagai kehendak Allah yang bersifat punitif (punitive = penghukuman).


 

Di dalam Perjanjian Baru terdapat pasangan Bileam. Pria itu adalah Yudas. Walaupun Yesus telah mengasihi dia dan menginginkan pertobatannya, pikiran Yudas sudah mantap untuk mengkhianati Gurunya. Dengan demikian TUHAN berkata kepadanya, “Apa yang hendak engkau lakukan, lakukanlah segera” (Yohanes 13:27). Yudas, karena telah menjual TUHANnya dengan 30 keping perak, berakhir di tiang-gantung, ketika ia jatuh mati, perutnya pecah tercecer sesuai dengan kebinasaan yang ia tanggung (Kisah Para Rasul/KPR 1:18). Oh alangkah mengerikan kehendak Allah yang bersifat punitif ini. Perkara ini adalah suatu peringatan kepada kita, kisah Bileam dan pengkhiatan Yudas.


 

Teman alamiah dari kehendak Allah yang bersifat punitif adalah teguranNya (chastisement). Kehendak Allah yang bersifat cestitif terhadap Daud untuk dosanya adalah suatu bentuk tindakan koreksi dari seorang bapa yang penuh kasih. Dengan demikian Daud diberi pelajaran yang keras, tetapi ia tidak binasa seperti Bileam. Untuk mereka yang dihukum melalui kehendak Allah yang bersifat punitif akan binasa selamanya. Sedangkan untuk mereka yang ditegur dengan teguranNya yang bersifat kebapakan akan terselamatkan. Rotan sang bapa adalah manis seperti tebu (A father’s cane is a sugar cane, Ibrani 12:6).

Last Updated on Thursday, 18 August 2011 17:03
 
Share