TIDAK TERHINGGA, KEKAL DAN TIDAK-BERUBAH DALAM KEADILANNYA PDF Print E-mail
Written by Buswell, T Tow & J Khoo   
Wednesday, 17 August 2011 22:17

 

TIDAK TERHINGGA, KEKAL DAN TIDAK-BERUBAH

DALAM KEADILANNYA


A Systematic Theology

In the

Reformed and Premillennial Tradition

of J Oliver Buswell

By


  
 

Keadilan Allah secara alami berakar dari kekudusanNya. Kata Ibrani tsaddig berarti “lurus,” dan kata Yunani dikaios berarti “benar (upright).” Ke dua kata ini terkait dengan keadilan dari Allah yang kudus. Keadilan Allah adalah merupakan ekspresi luar dari kekudusanNya dan keadilan Allah berlaku untuk orang percaya dan juga berlaku untuk orang tidak percaya. Buswell menjelaskan, “Jika seseorang berjalan lurus harmoni sesuai dengan kekudusan Allah, maka ia akan mengikuti keadilan Allah sehingga orang tersebut akan memiliki persekutuan yang sempurna dengan Allah; tetapi jika seseorang, seperti yang kita ketahui, bersifat sangat-jahat secara sangat menakutkan, maka yang akan terjadi adalah Allah marah terhadap kejahatan orang tersebut. Karena dunia ini adalah tidak-kudus dan tidak-adil, maka yang terjadi adalah Allah di dalam keadilanNya haruslah marah terhadap segala hal yang telah melanggar kekudusanNya Sendiri. Jika terdapat perbedaan antara yang benar dengan yang salah, Allah di dalam keadilanNya harus marah terhadap yang salah.” “Upah-upah dari dosa adalah kematian” (Roma 6:23).


 

Charles Hodge berkata, “Pengetahuan tentang Allah adalah hidup yang kekal. Hal ini adalah kebaikan puncak untuk segala mahluk ciptaanNya. Dan penyebarluasan pengetahuan itu, manifestasi dari hal itu menyatakan secara bertubi-tubi tentang kesempurnaan dari ketidak-terhinggaan Allah, ini merupakan tujuan puncak dari seluruh pekerjaanNya. Hal ini dinyatakan oleh sang rasul sebagai tujuan yang terkonsumasi baik dalam penghukuman orang-orang berdosa dan di dalam keselamatan orang-orang yang percaya. Ini merupakan akhir dari segala perkara, dia berkata, tidak ada seorangpun yang dapat menolaknya secara rasional. “Bagaimana dengan Allah saat Ia hendak menunjukkan murkaNya (atau keadilanNya), dan membuat kekuasaanNya dikenali, Ia menyatakan kepanjang-sabaranNya terhadap bejana-bejana murka yang telah disiapkan untuk kehancuran: Dan supaya Ia dapat memperkenalkan kekayaan dari kemuliaanNya terhadap bejana-bejana rahmat, yang di waktu lampau telah direncanakanNya untuk kemuliaan” (Roma 9:22-23). Karena itu, dosa, sesuai dengan Kitab Suci, diizinkan terjadi, supaya keadilan Allah dapat diketahui dalam penghukuman yang dijatuhkanNya, dan anugrahNya dinyatakan dalam pengampunan yang diberikan olehNya. Dan alam semesta, tanpa pengetahuan tentang atribut-atribut Allah ini, dapat disamakan seperti bumi tanpa dilengkapi dengan cahaya matahari.”

 

Timothy Tow and Jeffrey Khoo

diterjemahkan oleh Peter Yoksan
 

http://febc.edu.sg/assets/pdfs/febc_press/Theology_for_Every_Christian.pdf

Last Updated on Thursday, 18 August 2011 16:27
 
Share