TIDAK TERHINGGA, KEKAL DAN TIDAK BERUBAH DALAM HIKMATNYA PDF Print E-mail
Written by Buswell, T Tow & J Khoo   
Wednesday, 17 August 2011 22:20

 

TIDAK TERHINGGA, KEKAL DAN TIDAK BERUBAH

DALAM HIKMATNYA


A Systematic Theology

In the

Reformed and Premillennial Tradition

of J Oliver Buswell

By

Timothy Tow and Jeffrey Khoo

 


diterjemahkan oleh Peter Yoksan

Pernyataan bahwa Allah tidak-terhingga, kekal dan tidak berubah dalam hikmatNya bermaksud untuk mengajar (1) bahwa Allah maha-tahu, (2) bahwa kemaha-tahuanNya selalu menjadi milikNya dan akan selalu menjadi milikNya, (3) bahwa Dia tahu segala sesuatu tanpa ada pengecualian, dan tidak ada seorangpun yang dapat menambah atau mengurangi pengetahuanNya.


 

Mazmur 147:4-5, “Ia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama-nama semuanya. Besarlah Tuhan kita dan berlimpah kekuatan, kebijaksanaanNya tak terhingga.” KPR 15:18, “Diketahui Allah segala pekerjaanNya dari permulaan dunia.” Matius 10:29-30, “Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun darinya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya.” Amsal 15:3, “Mata TUHAN berada di setiap tempat, melihat orang jahat dan orang baik.”



Karena Allah mengetahui segala sesuatu, kita harus sangat hati-hati untuk tidak berdosa melawan Dia di dalam pikiran-pikiran kita dan perasan-pikiran kita. Manusia [lain] dapat saja tidak tahu apa kita yang pikirkan dan rasakan, tetapi Allah selalu tahu. Bahkan di dalam perbuatan kita, tidak ada orang yang tahu bahwa kita telah mencuri, atau telah menipu dalam transaksi-transaksi bisnis kita atau saat ujian-ujian sekolah kita, tetapi Allah selalu tahu, dan Dia akan menghukum semua orang yang telah melanggar HukumNya. Kita dapat bersembunyi dari manusia, tetapi kita tidak pernah dapat bersembunyi dari Allah.


 

Doktrin kemaha-tahuan Allah mempunyai nilai praktis. Doktrin ini memberikan kita alasan untuk berdoa. Kita berdoa karena kita tidak tahu, tetapi Allah tahu. Dia mengetahui segala sesuatu, dari akhir sampai awal. Karena itu mengapa TUHAN secara terus menerus mendorong kita untuk mempersembahkan permohonan-permohonan kita di hadapanNya, “Janganlah kuatir akan apapun juga; tetapi dalam segala hal dengan doa dan permohonan dengan ucapan-syukur hendaklah permohonan-permohonanmu disampaikan kepada Allah” (Filipi 4:6). “Jika seorang di antara kamu kurang hikmat, hendaklah ia meminta kepada Allah yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya” (Yakobus 1:5). Allah berkata kepada Yehezkiel, “Beginilah firman Tuhan ALLAH: Dalam hal ini juga Aku menginginkan, supaya kaum Israel meminta dariKu apa yang hendak Kulakukan untuk mereka, yaitu membuat mereka banyak seperti lautan manusia. Seperti domba-domba persembahan kudus, dan seumpama domba-domba Yerusalem pada waktu-waktu perayaannya, begitulah kota-kota yang sudah runtuh dipenuhi dengan lautan manusia. Dengan begitu mereka akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN" (Yehezkiel 36:37-38). Dengan kata-kata lain, Allah berkata, “Aku akan memberkati mereka dan Aku akan memberkati mereka dalam jawaban doa.”

 


Orang-orang Kristen yang mengetahui Allah akan memanggil Dia secara bebas dan secara spontan, “serahkanlah segala kekuatiranmu kepada Dia” (1 Petrus 5:7). Sebagai orang-orang tua, kita kerap kali dapat mengatakan apa yang diingini oleh anak-anak kita dari kita bahkan sebelum mereka memintanya dari kita. Dengan keterbatasan pengetahuan kita, kita dapat mengetahui sesuatu di masa mendatang. Sebagai contoh, seorang ayah tahu bahwa anak-anaknya memerlukan uang saku sebelum mereka pergi ke sekolah. Dia menyiapkan uang saku untuk mereka, tetapi memberikannya kepada mereka pada saat mereka datang kepadanya. Dia suka anak-anaknya datang kepadanya untuk keperluan-keperluan mereka.


 

Buswell berkata, “Allah telah mengantisipasi doa-doa kita sebelum fondasi dunia. Dia telah membangun jawaban untuk doa-doa kita ke dalam setiap struktur alam semesta. Dia mengetahui bahwa kita akan berdoa dan bahwa kita akan berdoa secara spontan seperti seorang anak yang menangis di hadapan ayahnya. Allah telah menempatkan alam semesta bersama atas dasar satu prinsip hubungan-hubungan pribadi di mana Dia selalu menjawab doa, dan kita dapat, dalam ukuran yang sama, mengerti persediaanNya yang penuh kasih hanya dalam basis kemaha-tahuanNya.”

 

http://febc.edu.sg/assets/pdfs/febc_press/Theology_for_Every_Christian.pdf

Last Updated on Thursday, 18 August 2011 16:20
 
Share