Perumpamaan Tentang Dua Putra yang Hilang PDF Print E-mail
Written by Peter Yoksan   
Friday, 18 May 2012 23:59

Ringkasan Khotbah 13 Mei 2012


Perumpamaan Tentang Dua Putra yang Hilang

Lukas 15:11-32 (Oleh GI Peter Yoksan)


Perumpamaan tentang dua putra yang hilang diajarkan Yesus di Lukas 15:11-32 dapat dipelajari dengan cara mengkontraskan ayat awal dengan ayat akhir. Perumpamaan ini seringkali disalah-mengertikan dengan memandang putra bungsu saja yang hilang. Putra bungsu hilang di luar rumah sedangkan yang sulung hilang di dalam rumah. Siapakah di antara mereka berdua yang tidak kembali? Dr. Kenneth Bailey, seorang missionaris dari Amerika yang telah tinggal hampir 50 tahun di Timur Tengah menggambarkan keadaan kedua putra itu dengan bentuk kiastik sbb:


I. P U T R A     B U N G S U

A. MATI (ayat 12)

B. SEMUANYA TERHILANG (ayat 13)

C. PENOLAKAN (ayat 15)

D.       MASALAH (ayat 17)

D.       PENYELESAIAN (ayat 18)

C.       PENERIMAAN (ayat 20)

B.  SEGALANYA DIPULIHKAN (ayat 21)

A.     BANGKIT DARI KEMATIAN (ayat 23)


Putra bungsu mencerminkan seorang yang telah “mati” (ayat 12) ketika ia datang kepada ayahnya meminta bagian harta warisannya. Ayahnya adalah bukan seperti ayah pada umumnya yang menjaga wibawa dan keras terhadap anak-anaknya. Walaupun si bungsu sudah kurang ajar meminta harta bagiannya sebelum ayahnya mati, ayahnya memberinya juga.  Putra bungsu mengalami “semuanya terhilang” (ayat 13) atau putus hubungan dengan ayah ketika ia menjual & menghabiskan warisannya di luar rumah. Hidup si putra bungsu mengalami “penolakan” (ayat 15) ketika ia terhilang sampai-sampai dia harus bekerja sebagai penjaga babi yang adalah pekerjaan yang paling hina untuk orang Yahudi. Dalam keadaan yang terhilang dan mengalami penolakan itulah “masalah” (ayat 17) si bungsu timbul.


Pada saat masalah timbul, ia menyadari dosa dan kesalahannya. Terjadilah “penyelesaian” (ayat 18) dari masalahnya. Ia bangkit dan kembali ke rumah ayahnya dan mengalami  “penerimaan” (ayat 20) dimana ayahnya yang melihat dia pulang berlari mendapatkan dia dan merangkul serta mencium dia. “Segalanya dipulihkan” (ayat 21) ketika ia menyadari dan mengakui dosanya terhadap sorga dan ayahnya. Ayahnya mengenakan dia jubah terbaik, memakaikan cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya yang semuanya itu melambangkan suatu pemulihan total status dia sebagai putra. Ia telah betul-betul “bangkit dari kematian” (ayat 23) ketika ia kembali ke rumah ayahnya yang bersuka-cita mengadakan pesta besar untuknya. Putra bungsu melambangkan pemungut cukai dan orang berdosa yang mau bertobat.


II.   P U T R A S U L U N G

A.    BERDIRI JAUH (ayat 25)

B.     MARAH (ayat 32)

C.       KASIH MAHAL (ayat 28B)

D.       GANJARAN UNTUK PUTRA SULUNG (ayat 29)

D.       GANJARAN UNTUK PUTRA BUNGSU (ayat 30)

C.        KASIH MAHAL (ayat 31)

B.      SUKA CITA (perumpamaan stop di ayat 32)

A.   BAGAIMANA AKHIR CERITA PUTRA SULUNG YANG HILANG.......???


Ia “berdiri jauh” (ayat 25) mencerminkan seorang yang terhilang walaupun ia berada di dalam rumah. Dengan penuh “marah” (ayat 32) ia bertanya kepada hambanya karena melihat pesta yang diadakan ayahnya untuk saudaranya. Ia yang seharusnya ikut memiliki rasa damai karena saudaranya telah kembali, tidak mau masuk ke dalam pesta. Betapa “kasih itu mahal” (ayat 28b) sampai ayahnya harus keluar dan berbicara dengan dia untuk mengundang dia masuk. Ia mulai menghitung-hitung “ganjaran untuk dirinya” (ayat 29) kepada ayahnya dengan menyebutkan kebaikan dirinya dan mempertanyakan pembalasan yang belum pernah ia terima dari ayahnya. Ia menunjukkan kedengkian hatinya dengan menyebutkan kejelekan-kejelekan saudaranya kepada ayahnya. Ia menuntut “ganjaran untuk saudaranya” (ayat 30) karena merasa ia tidak seperti saudaranya yang telah menghabiskan harta warisan ayahnya. Sekali lagi “kasih itu mahal” (ayat 31) karena ayahnya harus merendah dengan menyadarkan dia bahwa segala kepunyaan ayahnya adalah miliknya juga. Dan bahwa ia sepatutnya ber”suka-cita” (ayat 32) dan bergembira karena saudaranya yang telah mati telah hidup kembali, saudaranya yang telah hilang telah didapat kembali. Ia yang diharapkan untuk kemudian memeluk ayahnya, masuk dan turut berpesta dengan sukacita dan hidup damai bersama ayah dan saudaranya, tidak terjadi. Di “akhir cerita yang hilang” yang  sengaja tidak diselesaikan oleh Yesus itu, ia mengambil batu dan melempari ayahnya sampai mati. Sungguh ini adalah suatu kisah yang amat menyedihkan. Ia menggambarkan orang yang tidak mau percaya Yesus, dialah orang-orang Farisi, ahli-ahli Taurat dan imam-imam kepala yang menyalibkan Yesus sampai mati.


Perumpamaan Yesus tentang dua putra yang hilang jelas memberitahukan kita bahwa ada dua putra yang hilang tetapi hanya satu yang kembali yaitu yang bungsu sedangkan yang sulunglah yang telah HILANG walaupun dia berada di dalam rumah karena ia tidak mau menyesali dosanya dan bertobat. Ia mencerminkan orang yang tidak mau percaya Yesus. Semoga kita dapat belajar menjadi seperti putra bungsu yang mau bertobat dan kembali kepada Bapa kita di sorga. Amin.

(Perumpamaan di atas dikenal sebagai Anak Yang Hilang atau Prodigal Son).

 

CATATAN TAMBAHAN:


 

Lukas 15 mencatat 3 perumpamaan TUHAN YESUS (terdapat hampir 40 perumpamaan TUHAN YESUS, coba klik link ini http://www.terangdunia.net/bible-study/491-perumpamaan-tuhan-yesus). Tuhan YESUS mengajar dengan perumpamaan yang adalah kisah bumi, kisah sehari-hari untuk menyampaikan pengajarn sorgawi tetapi sekaligus menyembunyikanNya kepada para musuhNya yang telah menolak DiriNya.


DUA (domba, uang dan anak) yang hilang. Zaman dulu domba-domba adalah milik orang sekampung dan digembalakan oleh beberapa gembala. Kumpulan domba supaya gampang diingat maka Yesus menggunakan angka 100 dan satu domba hilang. Seorang gembala meninggalkan kawanan domba kepada rekan gembala lainnya dan ia pergi mencari domba yang hilang itu. Ada suka cita besar yang ditandai dengan PESTA saat domba itu ditemukan. Demikian juga di sorga ada suka-cita besar jika SATU manusia berdosa bertobat. Putra Allah datang ke dunia sebagai Putra Manusia untuk mencari dan menyelamatkan yang sesat.


Mengapa si wanita itu ngotot mencari uang logam yang hilang dari 10 uang logam yang ia miliki. Ia mengerahkan tenaga yang besar dan waktu yang panjang mencari satu uang logamnya yang hilang. Rumah zaman dahulu di tanah perjanjian tidak seperti rumah zaman sekarang yang lantainya terbuat dari semen atau ubin. Sedangkan rumah di zaman TUHAN YESUS terbuat dari tanah dan bahkan dialasi jerami. Coba bayangkan bagaimana Uang logam yang hilang itu harus dicari di setiap sudut rumah dengan membongkar jerami. Uang itu mati-matian dicari karena jika kurang satu maka tidak dapat membeli makanan untuk seisi rumah. Misalnya Rp10.000 yang terdiri dari 10 uang logam Rp 1000 untuk membeli gula pasir satu kilo. Tidak bisa diecer. Maka 10 uang logam perlu untuk membeli makanan untuk seisi rumah ibu ini. Kemungkinan ke dua adalah uang koin logam yang hilang itu adalah bagian dari 10 uang logam di kalung kepala (ikat kepala) untuk wanita yang telah menikah sehingga adalah tidak baik jika sampai hilang satu seperti gigi yang ompong.


Mengapa sampai sesuatu itu hilang:

1. Setelah kita memakai benda itu kita tidak baik-baik meletakkannya sehingga diambil oleh anak kecil di rumah dan anak itu sembarangan meletakkan benda itu sehingga tidak dapat dicari kembali.

2. Barang itu kita letakkan di tempat yang kita sendiri lupa di mana tempatnya.

3. Benda itu ketinggalan di warung kopi sehingga diambil oleh orang.

4. Domba-domba tidak dijaga dengan baik sehingga hilang.

5. Terlalu banyak tempat penyimpanan sehingga tidak tahu file yang dicari disimpan di computer yang mana. Penyimpanan yang tidak terintegrasi atau tercecer.

6. Tidak focus pada hal-hal penting sehingga berputar-putar  (hilang atau tersesat) dalam hal yang tidak penting.

7. Terlalu banyak kerja yang bukan berarti seperti hanya menghasilkan laporan kerja dan bukan melakukan pekerjaan itu sendiri.

 


Diringkas oleh Pipit MJ


Last Updated on Saturday, 19 May 2012 10:45
 
Share